Selasa, 29 November 2011

Stasiun Kedungjati (Daerah Operasi 4 Semarang)


Stasiun Kedungjati yang terletak di Kabupaten Grobogan Jawa Tengah ini adalah bagian dari awal sejarah perkeretaapian di Indonesia. Stasiun ini dibangun oleh perusahaan NIS (Nederland Indische Spoorweg Maatschappij) kurang lebih enam tahun setelah jalur kereta api Samarang - Tanggung yang merupakan jalur pertama di pulau Jawa beroperasi pada tahun 1867. Jalur pertama tersebut diteruskan menjadi jalurSemarang — Yogyakarta melalui Solo agar lebih menguntungkan bagi kepentingan militer Belanda pada masa itu serta pengangkutan hasil perkebunan. Stasiun Kedungjati mulai dioperasikan, bersamaan dengan selesai dan dibukanya KA jalur Semarang - Yogyakarta untuk umum.
Stasiun Kedungjati memiliki emplasemen ganda dengan bangunan utama berada di antara dua rel di sisi utara dan selatannya. Salah satu sisi relnya tertutup atap yang menjadi satu dengan bangunan stasiun. Stasiun ini terdiri dari satu bangunan utama yang di dalamnya terdapat ruang tunggu (peron), loket karcis, kantor pengelola dan lain-lain.
Stasiun Kedungjati semula dibangun dengan konstruksi kayu dan baru pada tahun 1907 dibangun kembali dengan konstruksi baja dan dinding bata. Arsitektur bangunannya dibuat mirip dengan Stasiun Willem I atau Stasiun Ambarawa yang kini jadi Museum Kereta Api Ambarawa. Bangunan stasiun dirancang sebagai bangunan yang monumental berupa bangunan utama berkonstruksi baja bentang lebar yang menaungi ruang tunggu, ruang administrasi, ruang kepala stasiun dan loket penjualan karcis. Sebagai bangunan publik stasiun ini dibangun dengan kualitas material yang mampu bertahan hingga ratusan tahun. Penghawaan bangunan pun dirancang teliti dengan ruang tunggu berupa ruang setengah terbuka yang dibatasi tembok rendah dan atap tinggi sehingga udara mengalir lancar meskipun pada saat stasiun sedang ramai oleh calon penumpang.
Fasilitas stasiun (ruang kepala stasiun, administrasi, dan loket penjualan karcis) di susun secara linier sepanjang bangunan yang berbentuk empat persegi panjang sejajar rel.
Keunikan arsitektur Stasiun Kedungjati terutama terletak pada penggunaan bata ekspos sebagai ornamen dan aksen pada pinggiran pintu, jendela dan dinding yang inspirasinya berasal dari arsitektur Eropa abad 19. Ciri khas tersebut saat ini dipertajam dengan finishing cat yang menonjolkan karakter ornamen bata ekspos tersebut. Sampai saat ini kondisi bangunan Stasiun Kedungjati masih sangat baik dan terawat.
Ruang - ruang administrasi terlihat seperti berupa 'bangunan di dalam bangunan' karena konstruksi berdinding bata tersebut dinaungi oleh atap baja yang lebih tinggi.
Susunan bata ekspos yang membingkai pintu-pintu dan jendela-jendela serta menjadi ornamen yang menghiasi dinding bangunan. Gaya yang terinspirasi dari arsitektur Eropa abad 18.
Konstruksi baja yang digunakan pada struktur bangunan utama dan emplasemen masih terlihat kokoh hingga saat ini.http://indonesianheritagerailway.com/index.php?option=com_content&view=article&id=206%3Astasiun-kedungjati&catid=57&lang=id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar