
Stasiun Bandung pertama kali beroperasi pada tanggal 17 Mei 1884, bersamaan dengan diresmikannya jaringan kereta api Bandung - Batavia(Jakarta) lewat Cianjur/Bogor, sedangkan lintas Bandung – Batavia (Jakarta) lewat Purwakarta baru dibuka pada tahun 1906.
Stasiun Bandung saat ini dirancang oleh EH de Roo pada tahun 1928, merupakan desain stasiun keempat yang disesuaikan dengan meningkatnya jumlah penumpang dari tahun ke tahun. Stasiun Bandung merupakan stasiun satu sisi dimana sirkulasi penumpang melewati gerbang masuk yang berhubungan langsung dengan loket karcis yang berada di bagian kanan dan kiri. Untuk sirkulasi keluar terbagi dua melalui pintu keluar yang terletak di sayap kiri dan sayap kanan.
Kenyamanan calon penumpang lebih diperhatikan dengan membuat ruang tunggu yang lebih terbuka, sehingga kedatangan dan keberangkatan kereta dapat diketahui dengan jelas.
Hall depan berhubungan langsung dengan sirkulasi penumpang yang masuk maupun keluar melalui gerbang masuk utama dengan bukaan pintu yang berproporsi horizontal. Bukaan pada dinding yang paling menonjol sekaligus paling menarik pada stasiun ini adalah lunette. Lunette utama berbentuk persegi panjang, terdiri dari lima lunette kecil dengan bahan kaca timah yang didominasi warna biru dan putih jernih.
Bagian berwarna putih disusun dengan pola persegi panjang atau bujur sangkar sebagai dasar, sedangkan warna biru dengan bentuk segi tiga, belah ketupat, dan persegi panjang berperan sebagai ornamen utama.
Calon penumpang kelas eksekutif disediakan ruang tunggu khusus sebagai inovasi dalam meningkatkan pelayanan kepada penumpang.
Massa stasiun Bandung terbentuk secara linier, dengan massa utama pada deretan depan yang diapit oleh massa sekunder yang berada di sampingnya. Dominasi bentuk persegi atau kubus dan atap datar tercermin dalam rancangan bangunannya. Sayap kanan yang lebih pendek dari pada sayap kiri menghadirkan siluet yang dinamis.
Peron utama menggunakan struktur beton dengan ornamen pada kepala kolom berbentuk segitiga, belah ketupat dan persegi panjang. Detail ornamen kepala kolom menggunakan bentuk-bentuk geometris berupa segitiga, persegi panjang dapat ditemui hampir diseluruh kolom.
Perluasan atap peron menggunakan konstruksi rangka atap truss baja yang ditumpu oleh kolom baja profil dengan finishing cat.
Perluasan atap peron menggunakan konstruksi rangka atap truss baja yang ditumpu oleh kolom baja profil dengan finishing cat.http://indonesianheritagerailway.com/index.php?option=com_content&view=article&id=145&Itemid=168&lang=id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar