Kamis, 01 Desember 2011

Kursus Lokomotif Uap



Photo Courtesy of Hanafi
Masinis adalah orang yang bertangung jawab untuk menjalankan lokomotif. Kata masinis berasal dari bahasa Belanda, yang sebenarnya berarti juru mesin. Disebut masinis karena pada awalnya juru mesinlah yang menjalankan kereta api. Masinis bertanggung jawab untuk mempercepat, memperlambat atau menghentikan kereta api, mengikuti/mematuhi sinyal, semboyan dan menjamin keselamatan kereta api yang dijalankannya.
Sebelum lokomotif diesel dipergunakan seperti saat ini, lokomotif uap menjadi alat penarik utama kereta api di Indonesia. Dipo lokomotif yang tersebar di seluruh Jawa dan Sumatra seluruhnya menggunakan lokomotif uap.
Tahun 1952, seluruh lokomotif yang dipakai Djawatan Kereta Api (DKA) adalah lokomotif uap. Masuknya lokomotif bertenaga diesel pada tahun 1953, disertai tumbuhnya sumber daya manusia yang memadai untuk menangani teknologi lokomotif diesel dari lokomotif uap.
Alih teknologi lokomotif uap ke lokomotif diesel agar berjalan sukses harus disertai pendidikan dan program latihan secara sistimatik, intensif dan tentunya professional. Oleh sebab itu didirikan sebuah pusat pendidikan masinis di kota Yogyakarta pada tahun 1964 setelah berkoordinasi dengan DKA. Untuk kemajuan perkeretaapian, maka pada tahun 1980, pusat pendidikan masinis ini diberi nama Balai Pelatihan Teknik Traksi (BPTT) sampai dengan saat ini.
Photo Courtesy of Hanafi
Memasuki tahun 1970, lokomotif uap mulai masuk era barang antik seiring tidak lagi diproduksi oleh pembuatnya di Eropa maupun di Amerika. Hal ini ikut mempengaruhi kurikulum pendidikan masinis yang juga mulai tidak lagi mengajarkan teknis pengoperasian dan perawatan lokomotif uap. Saat ini, jumlah masinis senior yang mengetahui pengoperasian dan perawatan lokomotif uap semakin berkurang karena sudah banyak dari mereka yang sudah meninggal dunia/wafat atau purna tugas/pensiun.


Saat ini, pendidikan dan perawatan Lokomotif uap dipusatkan di Museum Kereta Api di Ambarawa yang juga sekaligus mengoperasikan kereta api wisata. Tujuan dari diadakan kursus lokomotif uap ini adalah agar ilmu pengetahuan tentang perawatan dan pengoperasian lokomotif uap tetap lestari. Kursus ini terbuka untuk umum. Peserta kursus akan dibagi menjadi 2 (dua) kelompok yaitu  masinis professional dan pecinta lokomotif uap. Peserta kursus akan dikenakan biaya. Waktu kursus paling lama 6 bulan dan mendapatkan sertifikat.
Dengan kursus ini diharapkan :
  1. Menghasilkan generasi masinis lokomotif uap yang baru
  2. Memberikan pelayanan terhadap penggemar lokomotif uap untuk menjalankan lokomotif uap (kereta api non-regular)
  3. Salah satu bentuk konservasi intangible, mengenai kecakapan masinis lokomotif uap.{jcomments 

Kursus dan Pelatihan


Konservasi  tidak hanya pada sesuatu yang tampak saja tetapi juga sesuatu tidak tampak perlu konservasi. Pengetahuan dan keahlian harus mampu ditransfer kepada generasi penerus, agar tercipta ruang pengalaman berkesinambungan.  Sesuatu yang tidak tampak adalah kecakapan masinis lokomotif uap, pegawai pemeliharaan depo lokomotif uap dan tenaga PPKA (Pimpinan Perjalanan Kereta Api).

IkonKursus / PelatihanDeskripsiTempat
kursus_loko_iconKursus Lokomotif UapKebutuhan masinis lokomotif uap semakin hari semakin berkurang oleh karena secara regular kereta api uap sudah tidak ada lagi. Namun kebutuhan lokomotif uap masih diperlukan untuk wisata kereta api uap dan edukasi keahlian. PT Kereta Api Indonesia (Persero), akan membuka kesempatan kepada masyarakat , khusus untuk pelatihan masinis uap. Tentunya pelatihan ini tidak akan dikeluarkan brevet untuk bisa menjalankan kereta uap secara regular. Terlebih pelatihan ini sebagai sarana pengetahuan dan untuk transfer keahlian masinis uap agar tidak punah.Dipo Lokomotif Ambarawa


Untuk pendaftaran peserta, hubungi :
Unit Pelestarian Benda dan Bangunan 
PT Kereta Api Indonesia (Persero)
Stasiun Gambir, Lantai 2
Jalan Medan Merdeka Timur 17
Jakarta 10110
Phone: +62 21 37095553, +62 21 3516061
Fax: +62 21 37175959

Selasa, 29 November 2011

Stasiun Jember (Daerah Operasi 9 Jember)


Stasiun Jember merupakan pusat dari Daerah Operasi (DAOP) 9 Jember yang mengatur stasiun dari Pasuruan hingga Banyuwangi dan dilintasi kereta api jurusan Yogyakarta, Purwokerto, Jombang, Surabaya, Probolinggo, Lumajang, dan Banyuwangi. Jalur kereta api di Jember dan sekitarnya dibuka oleh perusahaan kereta api Staats Spoorwegen (SS) pada tahun 1897 terutama untuk kebutuhan pengangkutan komoditas hasil perkebunan khususnya gula, tembakau dan karet di sekitar Jember ke pelabuhan Panarukan, yang akan diteruskan ke Rotterdam.
Bangunan Stasiun Jember yang berdiri saat ini merupakan bangunan yang relatif baru sebagai hasil perbaikan atau renovasi yang dilakukan oleh PT KA. Meskipun demikian bentuknya tidak jauh berbeda dengan bentuk aslinya yang dibangun pada awal abad 20 yaitu terdiri dari sebuah masa bangunan tunggal sederhana yang memanjang dengan perletakan ruang-ruang secara linier yang sejajar dengan rel sehingga disebut sebagai stasiun satu sisi.
Dua sisi tampilan kontras, baik pada bentuk, bahan bangunan maupun warna dengan fungsi bangunan yang sama sebagai peron (tempat penumpang menunggu kereta).
Emplasemen terdiri dari dua peron dan dua jalur sepur dimana antara jalur dipisabkan oleh peron tambahan yang juga diberi kanopi baru. Terdapat perbedaan karakter peron yang cukup menonjol pada stasiun ini dimana peron pertama yang menjadi bagian dari bangunan utama atapnya berbentuk pelana menggunakan struktur pendukung berupa kolom kayu dengan bentuk konstruksi konsol seperti payung. Sedangkan peron kedua yang terpisah berupa kanopi memanjang dengan atap berbentuk V yang disangga struktur kantilever kolom tunggal dari baja.
Bahan bangunan diekspos dalam bentuk modern, memperlihatkan kekuatan baja praktis untuk menopang atap yang lebar sesuai kebutuhan ruang terutama dalam hal mengantisipasi iklim. Perbedaan itu diperkuat dengan penggunaan warna yang berbeda yaitu putih dan abu - abu pada emplasemen bangunan utama, sedangkan peron tambahan menggunakan warna asli dan kolom yang dicat dengan warna orange kontras serta lantai yang lebih tinggi.

Stasiun Gubeng (Daerah Operasi 8 Surabaya)


Stasiun Surabaya Gubeng adalah salah satu diantara tiga stasiun kereta api di kota Surabaya selain Stasiun Surabaya Kota dan Stasiun Pasar Turi. Stasiun Surabaya Gubeng merupakan stasiun terbesar dan menjadi tempat keberangkatan utama dari semua kereta api jalur selatan dan timur di kota Surabaya.
Pada awalnya stasiun ini didirikan oleh perusahaan kereta api Staats Spoorwegen (SS) pada tahun 1878 untuk keperluan mengangkut tentara.
Bangunan lama Stasiun Gubeng dibangun pada sisi barat rel dengan gaya aristektur Indische yang kental dengan ornamen besi tempa baik pada pinggiran atap maupun pada jalusi pintu dan jendela. Bangunan ini sudah mengalami beberapa kali renovasi, diantaranya atap peron yang direnovasi pada tahun 1905 dan atap bangunan lobby utama direnovasi pada tahun 1928. Setelah digunakan untuk waktu yang lama, pada tahun 1990 ditambahkan bangunan baru di sisi timur rel yang lebih luas untuk menampung pertumbuhan penumpang yang semakin tinggi.
Karakter arsitektur bangunan pintu masuk atau hall utama Stasiun Gubeng berkesan kokoh namun akrab karena adanya pintu dan jendela-jendela lengkung yang berderet di sepanjang teras bangunan sehingga memberikan kesan terbuka. Jendela-jendela dihias dengan jalusi ornamen besi berpola floral yang merupakan ciri seni dekorasi Art Nouveau yang populer pada akhir abad 18.
Puncak bangunan utama Stasiun ini, yang menjadi landmark dihias dengan ornamen besi pada pinggiran atap, moulding pada dinding dan jendela kaca bulat pada bagian tengah menciptakan nuansa klasik-tradisional.
Deretan pintu lengkung dan jendela-jendela besar pada bagian depan stasiun menciptakan kesan terbuka. Atap peron berupa struktur ringan dengan kolom-kolom besi profil yang mendukung atap pelana lebar dengan penutup seng. Selain memberikan kesan ringan, rangka-rangka besi profil tersebut sekaligus menjadi ornamen yang menciptakan karakter stasiun yang bernuansa klasik. Kesan terbuka dan merakyat pada bagian depan stasiun sepintas mirip suasana teras sebuah masjid.
Lengkungan diatas pintu yang bertumpu pada pilaster memberi kesan klasik. Terlihat konstruksi besi pada sambungan antara kolom dan rangka atap. Profil konsol besi dengan lubang-lubang di tengahnya merupakan gagasan cerdik memadukan efisiensi struktural dan estetika.

Stasiun Malang Kota Lama (Daerah Operasi 8 Surabaya)


img_2107
Stasiun Malang Kotalama adalah stasiun kereta api tertua di Kota Malang yang dibangun pada tahun 1879. Penambahan nama "Kotalama" dimaksudkan untuk membedakan dengan Stasiun Malang Kotabaru yang dibangun pada tahun 1941 untuk menampung meningkatnya jumlah penumpang. Stasiun Malang Kotalama dibangun sebagai bagian dari rute kereta api jalur Surabaya — Pasuruan — Malang yang dibangun pemerintah kolonial Belanda melalui perusahaan Staats Spoorwegen (SS), untuk mengangkut hasil bumi dari Malang dan sekitarnya ke Pelabuhan Tanjung Perak. Pembangunan tersebut dimulai pada tahun 1875 untuk jalur Surabaya — Pasuruan dan dilanjutkan untuk jalur Pasuruan — Malang yang diresmikan pada tahun 1879.
Stasiun Malang Kota lama berada pada ketinggian +429m diatas permukaan laut sehingga jalur menuju stasiun ini dapat dikatakan sebagai jalur yang paling terjal. Khususnya pada lintas Bangil - Lawang (+ 18 km dari Malang) dimana kemiringan tanjakan rel mencapai lebih dari 15 per mil, sehingga perjalanan kereta api menjadi lebih lambat.
Bangunan emplasemen yang menempel di belakang bangunan pintu masuk, sederhana tetapi unik dengan struktur kayu dan atap pelana. Pada puncak atap terdapat vestibule yang berfungsi untuk memasukkan cahaya matahari.
Bentuk bangunan Stasiun Malang Kotalama sederhana namun memiliki gaya arsitektural yang unik karena penggunaan struktur utama dari material kayu. Stasiun ini terdiri dari dua bangunan yang berdempetan yaitu bangunan pintu masuk, tempat pejualan tiket dan ruang-ruang kantor, serta bangunan peron dan emplasemen. Bangunan pintu masuk dan kantor berbentuk sederhana memanjang dengan atap pelana satu arah. Struktur utama kayu yang dipadukan dengan dinding bata tebal membuat bangunan ini terlihat cukup kokoh.
Bangunan stasiun yang digunakan hingga sekarang itu sesungguhnya adalah bangunan tambahan yang dibangun pada tahun 1911 karena bangunan lama tidak mampu menampung peningkatan jumlah penumpang. Awalnya stasiun dibangun di sisi timur emplasemen sehingga pada saat turun penumpang akan dapat melihat pemadangan indah Pegunungan Panderman. Bangunan lama tersebut sekarang difungsikan untuk kantor dan gudang alat-alat perawatan kereta.
Detail konstruksi kayu pada pertemuan antara kuda-kuda, kolom dan balok horisontal terlihat sangat kokoh. Banyak bagian yang batangnya terdiri dari batang ganda yang berfungsi sebagai batang tarik. Setiap sambungan diikat dengan pelat baja yang dibaut.
Kusen dan daun pintu terbuat dari kayu yang diprofil dan berbentuk lengkung pada bagian atas. Material kayu digunakan pada berbagai bagian bangunan termasuk pintu-pintu dan jendela berikut kusennya yang tebal. Kayu yang digunakan adalah kayu jati berusia cukup tua sehingga sangat kuat, dan iklim pegunungan kota Malang yang sejuk turut mengawetkannya hingga sekarang. Kolom kayu dengan konstruksi ganda yang terdiri dari batang tegak dan batang miring membuat struktur ini lebuh kuat.

Stasiun Madiun (Daerah Operasi 7 Madiun)


Kota Madiun adalah sebuah kota yang sejak jaman Kerjaan Mataram menjadi tempat yang ramai, dan strategis karena terletak di perbatasan dengan Kerajaan Kediri. Sejak 1832, Kota Madiun dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda dan menjadi wilayah berstatus karesidenan dan menjadi tempat tinggal orang-orang Belanda dan Eropa lainnya terutama yang berprofesi di bidang perkebunan dan perindustrian karena adanya pengembangan berbagai perkebunan dan pabrik di sekitar kota ini seperti perkebunan tebu dengan pabrik gula, perkebunan teh, kopi, tembakau dan lain-lain.
Berkembangnya perkebunan dan pabrik pengolahan hasil perkebunan membawa akibat pada kebutuhan sarana pengangkutan, dalam hal ini kereta api menjadi pilihan yang paling efisien. Jaringan rel kereta api dikota Madiun dibangun oleh perusahaan kereta api Staats Spoorwegen (SS) dan mulai beroperasi sejak tahun 1882. Pada jaman dahulu Madiun adalah tempat yang padat jalur kereta api, khususnya jalur kereta api tebu yang beberapa diantaranya terintegrasi dengan jalur kereta api Madiun-Ponorogo.
Salah satu keistimewaan Kota Madiun terkait dengan perkeretaapian adalah disini terdapat industri kereta api PT INKA. PT INKA merupakan perusahaan pembuat gerbong dan kereta penumpang yang kemampuan teknologinya sudah baik dan memiliki fasilitas yang modern. PT INKA didirikan tahun 1981 dari fasilitas bengkel lokomotif uap yang berlokasi persis di samping Utara Stasiun Madiun. Sekarang perusahaan ini menjadi perusahaan skala besar dan satu-satunya di Asia Tenggara yang bergerak di bidang per kereta apian sehingga produknya sudah dikenal di mancanegara. Maka kota Madiun merupakan kota yang sarat sejarah perkereta apian, baik di masa lalu dan yang akan menorehkan sejarah kereta api di masa depan.
Stasiun Madiun terletak di Madiun Lor, Manguharjo, Madiun dan menjadi pusat Daerah Operasi (DAOP) 7 dan merupakan stasiun besar yang melayani perjalanan kereta api ke baik jalur Utara maupun jalur Selatan ke berbagai kota tujuan seperti SurabayaMalang, Yogyakarta, BandungJakarta dengan kereta kelas ekonomi, bisnis maupun eksekutif. Stasiun Madiun berupa stasiun satu sisi dengan bangunan utama yang terletak sejajar dengan rel dan emplasemen. Sebagian besar bangunan stasiun, baik bangunan utama maupun emplesemen telah mengalami renovasi sehingga penampilan keseluruhan stasiun ini bersuasana cukup modern.
Pada ruang peron terlihat sedikit sisa elemen bangunan lama yang berupa pintu besar berbentuk persegi. Dinding bagian bawah dilapis dengan marmer agar tidak mudah kotor dan lebih mudah dibersihkan, mengingat fungsinya sebagai ruang publik.
Lobby utama berkesan luas dengan langit-langit tinggi berwarna krem dan penutup lantai keramik warna putih senada dengan warna dinding di sekitarnya menimbulkan kesan bersih dan modern. Ruang loket penjualan karcis menampilkan suasana yang sama dengan lobby, tetapi terlihat lebih akrab dengan ketinggian langit-langit yang lebih rendah.
Bangunan emplasemen berupa struktur atap pelana bentang lebar dengan kuda-kuda baja dan penutup atap seng gelombang menaungi dua jalur lintasan rel dan peron. Puncak atap sedikit diangkat sehingga menciptakan lubang yang berfungsi untuk mengalirkan udara agar ruang di bawahnya terasa lebih sejuk. Bentuk kuda-kuda yang sederhana dan efisien menunjukkan bahwa bangunan ini merupakan bangunan yang relatif masih baru.
Meskipun demikian, konstruksi kolom penyangga bangunan emplasemen yang terbuat dari besi menunjukkan adanya sisa dari bangunan lama yang menjadi ciri konstruksi yang dibangun pemerintah Hindia Belanda pada awal abad 20. Ciri itu terlihat dari bentuk kolom besi berprofil segi 8 yang diameternya semakin ke atas semakin kecil, serta bentuk konsol besi dengan ornamen lingkaran yang sesungguhnya merupakan bagian dari penguat konsol tersebut.
Pusat Pelestarian Benda dan Bangunan, PT Kereta Api Indonesia (Persero)

Stasiun Tugu Yogyakarta (Daerah Operasi 6 Yogyakarta)


Stasiun Yogyakarta dikenal sebagai salah satu tempat pemberhentian kereta tertua di Indonesia yang ter- letak ditengah kota Yogyakarta, dekat dengan objek wisata serta pusat belanja kawasan Malioboro. Stasiun yang mulai di operasikan sejak tanggal 2 Mei 1887 ini merupakan stasiun kereta api kedua di kota Yogyakartaset el ah Stasiun Lempuyangan yang telah dioperasikan 15 tahun lebih awal. Jalur kereta api di kotaYogyakarta pada awalnya dibangun untuk kebutuhan pengangkutan hasil bumi dari daerah Jawa Tengah dan sekitarnya yang menghubungkan kota-kota Yogyakarta — Solo — Semarang. Baru tahun 1905, Stasiun Yogyakarta mulai melayani kereta penumpang. Stasiun Yogyakarta saat ini sudah menjadi stasiun besar dengan enam jalur kereta yang melayani kereta kelas bisnis dan eksekutif untuk berbagai kota tujuan di Pulau Jawa. Namun jalur ke kota Semarang via Magelang justru sudah tidak beroperasi.
Ciri arsitektur Art Deco berupa komposisi simetris dengan bagian tengah yang merupakan pintu masuk utama sebagai pusat perhatian, serta perpaduan garis — garis vertikal dan horizontal sebagai pemberi karakter bangunan.
Salah satu keunikan stasiun ini adalah letak bangunan stasiun diapit oleh peron dan jalur kereta api. Komposisi itu disebut stasiun dua sisi, yaitu komposisi yang biasanya digunakan pada stasiun antara yang cukup besar. Fasad atau bagian depan bangunan yang sekaligus pintu masuk utama stasiun menghadap ke arah Timur atau ke arah Jalan Mangkubumi yang merupakan poros kota Yogyakarta. Selain sebagai sebagai stasiun penumpang, Stasiun Yogyakarta hingga saat ini juga masih berfungsi sebagai tempat perawatan kereta. Fasilitas tersebut terletak di bagian barat stasiun dan sedikit terpisah dari bangunan utama dan peron penumpang.
Dari bagian depan bangunan itu dapat dikenali ciri arsitektur langgam Indische Empire yang banyak dianut pada akhir abad ke 19 dan menjadi gaya arsitektur kolonial modern pada awal abad ke 20 di Hindia Belanda. Salah satu cirinya adalah susunan denah dan tampak bangunan yang simetris terkesan rapi dan sederhana, tidak terdapat bentuk-bentuk yang berlebih-lebihan yang juga merupakan pengaruh dari Neo Renaissance. Tetapi pengaruh awal arsitektur modern juga terlihat kuat dengan ornamentasi bergaya Art Deco, berupa komposisi garis — garis vertikal dan horizontal serta lubang-lubang dinding roster yang berguna untuk cross ventilation sebagai pemberi karakter bangunan. Pada kedua sisi terdapat bangunan terbuka dengan struktur baja beratap lebar yang memayungi area peron dan emplasemen.
Bangunan terbuka dengan struktur baja yang menaungi emplasemen menunjukkan adanya penyesuaian terhadap iklim tropis setempat. Penambahan overstek dengan atap berbentuk busur untuk melayani pertumbuhan penumpang yang semakin tinggi.
Struktur baja penopang atap besar yang menaungi peron dan bangunan utama memperlihatkan perpaduan kekokohan sekaligus keindahan dari rangkaian konstruksi teknis.
Bagian dalam bangunan stasiun mempunyai fasilitas loket, peron, ruang tunggu dan kantor pengelola. Plafon dan kolom/tiang serta balok bangunan diberi warna putih. Tiang diberi kombinasi bahan keramik warna krem pada bagian bawah untuk menghindari kotor. Bukaan/jendela mati pada bagian atas dibuat untuk memecahkan persoalan pencahayaan ruang dalam. Kombinasi kolom — kolom beton pada bangunan utama dan tiang-tiang baja pada bangunan peron memperlihatkan ketepatan pemilihan material yang sesuai fungsinya.
Peron dan ruang tunggu terletak dibagian kedua sisi utara dan selatan bangunan utama, dengan fasilitas tempat duduk yang diperbanyak sesuai lebar koridor yang ada. Dari gambar ini terlihat bahwa struktur baja dengan penutup atap lembaran baja gelombang merupakan struktur besar yang menaungi bangunan utama dan peron.

Stasiun Solo Balapan (Daerah Operasi 6 Yogyakarta)


st_solo_balapan_slo
Bangunan Stasiun Solo Balapan terdiri dari dua terminal atau emplasemen selatan dan utara. Emplasemen selatan memiliki lima jalur sepur, sedangkan emplasemen utara memiliki tujuh jalur sepur. Emplasemen selatan umum- nya dipakai untuk pelayanan kereta api penumpang, sementara emplasemen utara lebih diperuntukkan untuk pelayanan kereta api barang.
Stasiun Solo Balapan bagian utara mulai dibangun pada tahun 1870 oleh perusahaan kereta api Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada lahan milik Keraton Mangkunegaran. Stasiun ini merupakan salah satu stasiun besar tertua di Indonesia setelah Stasiun Semarang Tawang. Bangunan stasiun bagian selatan dirancang oleh Herman Thomas Karsten, seorang arsitek kenamaan beraliran Indische, pada tahun 1927.
Bangunan emplasemen utara yang dibangun lebih awal dirancang sebagai sebuah bangunan gedung memanjang, dengan atap pelana tanpa teritisan dibagian sofi — sofinya. Di bagian tengah bangunan yang memanjang tersebut diletakan bangunan utama yang berfungsi sebagai hall kedatangan penumpang serta kantor administrasi stasiun dengan dimensi yang berbeda sehingga tampak seperti menara. Menara memiliki bentuk atap yang mengambil inspirasi bentuk atap lokal dengan dua tekukan kemiringan yang berbeda dan diberi akhiran ornamen pada puncak bubungan. Itulah ciri bangunan gedung bergaya Nieuwe Bouwen yang dikombinasikan dengan elemen lokal, sebagai mana terlihat jelas pada jenis konstruksi atap peron dan raut profil yang dibuat di pilaster — pilaster -nya.
Emplasemen selatan merupakan bangunan yang lebih baru dengan langgam bangunan yang merupakan penggabungan antara arsitektur lokal dan modern. Bangunannya terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian kanopi dropoff yang merupakan penambahan baru, bagian hall dengan loket dan kantor administrasi, serta bangunan emplasemen. Bangunan hall dirancang dengan atap bertumpuk tiga sejajar yang tidak menunjukkan ciri arsitektur lokal. Sedangkan bentuk atap kanopi drop-off mirip pendopo yang diadopsi dari arsitektur setempat dengan konstruksi kolom beton. Bangunan emplasemen berupa bangunan panjang beratap pelana dengan struktur baja.
Bangunan emplasemen utara berkarakter Nieuw Bouwen yang dikombinasikan dengan elemen lokal. Bagian pintu masuk, hall dan kantor administrasi diletakkan di tengah dalam bentuk seperti menara sehingga menjadi vocal point bangunan ini.
Deretan kolom-kolom pada emplasemen utara yang membentuk suatu irama. Bila didasarkan pada pengamatan yang berkesinambungan, terlihat proses sesuatu yang bergerak yang mampu menggugah rasa keindahan suatu obyek.
Bentuk bukaan dinding pembatas antara peron dan ruang tunggu pada emplasemen utara dengan ornamen berupa cornice merupakan bentukan desain untuk mencapai keselarasan. Cahaya buatan yang terpancar dari lampu yang berada di langit-langit peron pada malam hari menciptakan suasana yang membuat suatu karya arsitektur menjadi terasa lebih indah.
Susunan atap tiga lapis berbentuk limasan menaungi bangunan utama emplasemen selatan dimana ruangan yang berada dibawahnya adalah hall dan loket penjualan tiket. Tiang tinggi menjulang pada puncak atap selain berfungsi sebagai penanda bangunan utama, juga berfungsi sebagai penangkal petir.
Struktur dan konstruksi penutup atap kanopi drop-off berbentuk jurai dengan material besi sebagai rangkanya dan seng galvanis sebagai penutup.
Salah satu penerapan komposisi simetri tercermin pada deretan jendela yang terdapat di bagian atas bangunan koridor yang difungsikan sebagai tempat untuk mengamati perjalanan kereta api.

Stasiun Solo Jebres (Daerah Operasi 6 Yogyakarta)


Solo Jebres dibangun 1884 oleh Pemerintah Kasunanan Surakarta melalui perusahaan kereta api Hindia Belanda Staats Spoorwegen (SS). Saat ini Stasiun Jebres adalah salah satu stasiun induk untuk transportasi kelas ekonomi dengan tujuan Jakarta dan Surabaya serta sebagai stasiun barang atau kargo ke beberapakota serta sebagai salah satu stasiun destinasi wisata ke Kota Solo.
Lokasi stasiun terletak di area yang strategis di pusat kota dengan pertumbuhan kota yang semakin dinamis sehingga pemerintah setempat segera menetapkan bangunan Stasiun Solo Jebres sebagai benda cagar budaya mengingat nilai penting yang dimilikinya. Sebagai benda cagar budaya, Stasiun Solo Jebres dapat dimanfaatkan sebagai objek dan daya tarik wisata karena keindahan, keunikan dan keragamannya. Pada bangunan stasiun ini telah dilakukan revitalisasi yang tidak bersifat mengubah, tetapi mengembalikan Stasiun Jebres Surakarta seperti dulu saat masih digunakan oleh pihak Keraton Kasunanan.
Arsitektur bangunan Stasiun Solo Jebres bergaya Indische Empire dengan fasad yang kaya dengan detail yang banyak dipengaruhi langgam Neoklasik. Bangunan berbentuk simetris dengan penekanan pada bagian pintu masuk utama dengan peninggian atap serta pengolahan fasad yang berbeda. Pada bagian tengah yang menjadi perhatian utama ini, karakter bangunan dibentuk oleh fasad segitiga dari sofi-sofi atap pelana yang dihias cornice dibawahnya, dua buah lunette atau jen-dela atas serta dua pintu yang semua berbentuk lengkung. Komposisi simetris dari elemen-elemen tersebut menciptakan kesan megah, ditambah detail jalusi pada pintu yang bernuansa Art Nouveau serta penempatan garis-garis list pada dinding. Terda-pat penambahan kanopi sebagai penanda entrance berbahan baja.
Lengkungan pada setiap bukaan yang diperkuat dengan moulding berprofil yang berbentuk busur dengan warna merah bata yang kontras dengan warna dinding merah muda. Lubang udara diatas pintu atau jendela untuk penghawaan alami diperindah dengan tralis besi dengan pola Art Nouveau atau deretan papan bernuansa tradisional. Pengulangan bentuk lengkung dengan jarak yang sama memperkuat faktor irama pada komposisi secara keseluruhan ditambah kesatuan warna yang digunakan menciptakan keharmonisan.
Pada bagian dalam bangunan, kekayaan komposisi elemen bangunan masih terlihat dengan pengolahan yang sama, meskipun hanya pintu utama yang berbentuk lengkung sedangkan pintu lainnya diakhiri dengan moulding berbentuk cornice. Hal ini untuk mencapai kesatuan bentuk dengan bagian bangunan yang lain. Bagian bawah dinding dilapisi oleh keramik agar mudah dalam perawatan dan lantai ditutup dengan keramik berwarna putih.
Detail moulding lengkung diatas pintu dan jendela serta kolom-kolom Corinthian yang merupakan ciri gaya Neoklasik. Jalusi besi bergaya Art Nouvcau serta pewarnaan yang kontras menjadikan bangunan stasiun ini terlihat kaya dengan detail.
Stasiun Solo Jebres pada awalnya memiliki 1 jalur persimpangan ke stasiun Solo Kota (Sangkrah), namun jalur tersebut saat ini sudah mati karena tidak terawat bahkan beberapa bagian rel sudah hilang tertanam aspal jalan raya atau hilang.
kondisi sebelum revitalisasi
kondisi setelah revitalisasi
Stasiun Solo Jebres ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah kota Solo karena memiliki nilai arsitektural, sejarah dan budaya yang menggambarkan masa pembangunannya. Pusat Pelestarian Benda dan Bangunan - PT Kereta Api Indonesia (persero) merevitalisasi bangunan tersebut agar mampu dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan akademis dan ekonomis.
kondisi sebelum revitalisasi
kondisi setelah revitalisasi
Tahun 2010, Pusat Pelestarian Benda dan Bangunan telah mengalokasikan anggaran untuk revitalisasi Stasiun Jebres. Dana tersebut digunakan untuk pengecatan dinding dengan warna putih, abu-abu, dan gabungan warna hijau dan prada, serta mengembalikan bentuk ubin lantai seperti semula. Proyek ini nantinya sifatnya bukan mengubah, akan tetapi mengembalikan Stasiun Jebres seperti dulu saat masih digunakan oleh pihak Keraton Kasunanan.

Konservasi Stasiun Maguwo (Daerah Operasi 6 Yogyakarta)


Stasiun Maguwo (lama) mulai beroperasi seiring beroperasinya jalan rel rute Klaten - Lempuyangan (30 km) pada tahun 1872 oleh perusahaan kereta api swasta NIS (Nederlandsch Indische Spoorweg maatschappij). Jalan rel tersebut merupakan bagian dari jalur kereta api rute Solo – Yogyakarta yang dibangun oleh NIS. Bangunan stasiun Maguwo (Lama) yang didirikan pertama kali telah dibongkar pada tahun 1930, kemudian dibangunlah bangunan baru yang dapat dilihat sampai sekarang.
kondisi sebelum revitalisasi
kondisi setelah revitalisasi
Bangunan berbentuk persegi panjang, memiliki 4 ruang, yaitu ruang PPKA (pimpinan perjalanan kereta api), ruang kepala stasiun yang tergabung denggan loket tiket, ruang dapur dan ruang tunggu penumpang.
Bangunan stasiun yang terbuat dari kayu sebagian besar masih asli. Dinding stasiun Maguwo terbuat dari papan kayu dengan tiang-tiang yang juga terbuat dari kayu. Pada tiang-tiang persegi terdapat hiasan-hiasan geometris dan ukiran sulur kerawang.
kondisi sebelum revitalisasi
kondisi setelah revitalisasi
Stasiun Maguwo (lama) merupakan saksi pada Agresi Militer ke-2 pemerintah Belanda ke kota Yogyakartapada tahun 1949. saat itu, stasiun Maguwo menjadi pusat pengangkutan pasukan Belanda setelah terjun payung di Landasan Udara Maguwo (saat ini bernama Bandara Adisucipto). Ketika masih aktif, stasiun ini melayani bongkar muat pupuk Sriwijaya ke gudang pupuk dan melayani angkutan ketel untuk memasok Avtur ke bandara Adisucipto.
Seiring dengan selesainya pembangunan jalan rel ganda rute Solo - Yogyakarta, maka mulai dioperasionalkan stasiun Maguwo (baru) pada tahun 2008 yang terintegrasi dengan bandara Adisucipto. Stasiun Maguwo (baru) berada kurang lebih 300 meter ke arah timur dari stasiun Maguwo (lama). Stasiun Maguwo (baru) ini difungsikan menjadi stasiun yang melayani penumpang dari/ke Bandara Adisucipto, sekaligus menjadi titik sistem transportasi terpadu di kota Yogyakarta. Seiring dengan diaktifkannya Stasiun Maguwo (baru) pada tahun 2008 maka stasiun Maguwo (lama) dinonaktifkan.
kondisi sebelum revitalisasi
kondisi setelah revitalisasi
Karena memiliki nilai sejarah, maka bangunan stasiun Maguwo (lama) masuk ke dalam daftar bangunan cagar budaya. Pada tahun 2010, Pusat Pelestarian Benda dan Bangunan - PT Kereta Api Indonesia (persero) melakukan perawatan dengan cara memperbaharui warna cat sehingga tampak lebih bersih dan rapi. Bangunan yang sudah lama tidak berfungsi ini direncanakan akan dihidupkan kembali agar bermanfaat bagi masyarakat luas. Stasiun Maguwo (lama)  akan dikembangkan menjadi gallery dan taman bacaan dengan melakukan kerjasama dengan pihak PT Mustika Ratu Tbk, Pusat Studi dan Konservasi - Universitas Gadjah Mada serta Railfans Yogyakarta. Saat ini baru dilakukan kesepakatan  dengan PT Mustika Ratu Tbk dan pembuatan desain untuk gerbong kayu NR. Gerbong kayu NR yang mangkrak di Balai Yasa Yogyakarta akan diperbaiki untuk dipajang di stasiun Maguwo (lama).

Stasiun Cilacap (Daerah Operasi 5 Purwokerto)


Stasiun Cilacap merupakan stasiun kereta api paling selatan di Daerah Operasi (DAOP) 5 Purwokerto dan merupakan stasiun terakhir pada jalur Maos-Cilacap. Stasiun ini pada awalnya dibangun sebagai fasilitas pengangkutan hasil bumi dari kegiatan tanam paksa di daerah Wonosobo, Purworejo dan sekitarnya ke pelabuhan Cilacap untuk selanjutnya dibawa keluar Pulau Jawa hingga ke Eropa. Kemudian pada tahun 1879, perusahaan Staats Spoorwegen (SS) membangun jaringan kereta api Cilacap — Maos — Yogyakarta sepanjang 187 km untuk mempermudah transportasi gula dari pabrik-pabrik yang berada di daerahYogyakarta.
Kegiatan perdagangan hasil bumi tersebut terus berkembang sehingga pembangunan jalur kereta api diteruskan oleh perusahaan Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS)  ke jalur Maos-Purwokerto, kemudian Purwokerto-Sokaraja hingga Wonosobo dan selesai pada tahun 1917. Selain itu pemerintah kolonial Belanda juga membangun rel lintas selatan Cilacap — Surabaya pada tahun 1875 — 1888. Namun pada masa pendudukan Jepang (1942 - 1945), beberapa jalur ditutup dan relnya dibongkar. Bangunan stasiun Cilacap yang didirikan pertama kali telah rusak, kemudian dibangunlah bangunan stasiun yang baru pada tahun 1943, yang dapat dilihat sampai sekarang. Bangunan stasiun yang baru dibangun kembali oleh arsitek Thomas Nix. Hingga saat ini stasiun Cilacap melayani kereta barang, kereta api penumpang Purwojaya jurusan Jakarta Gambir dan kereta penumpang feeder Logawa jurusan Jember.
Stasiun Cilacap merupakan stasiun satu sisi dimana emplasemen terletak di salah satu sisi bangunan dan sisi lainnya adalah pintu masuk. Bangunan Stasiun Cilacap berbentuk relatif sederhana, terlihat dari depan berupa bangunan utama beratap datar dengan sebuah menara pengawas di salah satu ujungnya. Fasad atau tampak bangunan didominasi oleh deretan kolom-kolom tinggi yang menjulang bebas tidak menempel pada dinding sehingga memberi kesan megah pada bentuk sederhana stasiun ini. Karakter bangunan yang sederhana merupakan ciri langgam arsitektur modern yang populer pada awal abad 20 yang lebih mengutamakan fungsi dan kekokohan dari pada ornamentasi pada bangunan. Ornamen atau dekorasi pada bangunan bergaya arsitektur modern terletak pada komposisi garis-bidang dari elemen-elemen kolom, pintu, jendela dan bidang-bidang bukaan lainnya.
Bagian depan bangunan Stasiun Cilacap yang berbentuk sederhana sekaligus megah dengan deretan kolom vertikal yang menjulang bebas dan diakhiri oleh garis atap horisontal yang sangat kuat. Adanya menara di salah satu ujungnya memperkuat identitas stasiun ini.
Garis vertikal kolom — kolom berkesan kokoh, menopang beban atap datar membentuk irama yang tertatur dan fungsional. Kolom — kolom yang berdiri tegak menimbulkan kesan megah.
Peron dan sebagian emplasemen di salah satu sisi bangunan utama dinaungi atap pelana bentang lebar dengan konstruksi kuda-kuda baja dan kolom beton. Kolom bebas berpenampang segi delapan dengan proporsi yang berkesan ramping dan efisien.
Peron sekaligus ruang tunggu yang terasa luas. Terlihat bahwa dinding bukan sebagai bidang struktural melainkan sebagai dinding pengisi saja. Pengecatan separuh bidang dinding menciptakan kesan proporsional terhadap bukaan (pintu, jendela). Selain itu, efek pencahay-aan buatan pada malam hari di emplasemen menciptakan suasana dan kualitas keindahan yang unik.
Tempat loket yang tertata rapi agar antrian teratur, dibatasi dengan pagar— pagar besi serta pola lantai sebagai pembatas antrean. Pintu masuk dengan ukuran untuk satu penumpang terlihat teratur. Warna dinding memberikan efek sejuk.http://indonesianheritagerailway.com/index.php?option=com_content&view=article&id=191%3Astasiun-cilacap&catid=57&lang=id

Stasiun Semarang Tawang (Daerah Operasi 4 Semarang)


Stasiun Semarang Tawang merupakan salah satu stasiun kereta api besar tertua di Indonesia yang melayani pengangkutan penumpang untuk jalur Semarang Tawang menuju Tanggung (Grobogan). Stasiun ini diresmikan pada tanggal 1 Juni 1914, dan pada 29 April 1911 merupakan peletakan batu pertama oleh perusahaan yang mengelolanya yaitu Netherland Indische Spoorweg maatschappij (NIS) dengan rancangan bangunan dari arsitek Sloth - Blauwboer. Sebagai stasiun yang dipersiapkan untuk menjadi pintu kedatangan tamu, Stasiun Tawang dirancang sebagai bangunan yang anggun dengan karakter bangunan berlanggam Romanticism yang populer di Eropa pada masa itu yang dipersiapkan untuk perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Spanyol (Tentoonstelling).
Pada awal beroperasinya, tidak ada jalur kereta api yang menghubungkan antara stasiun Semarang Tawang dan Semarang Poncol, dua-duanya merupakan stasiun ujung atau kopstation. Stasiun Semarang Poncol melayani kereta api dari/ke menuju barat (Cirebon) dan stasiun Semarang Tawang melayani kereta api dari/ke timur (Solo dan Yogyakarta). Ini dikarenakan bahwa kedua stasiun tersebut milik dua perusahaan kereta api yang berbeda yaitu NIS dan SCS (Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij). Akibat jaringan kereta api yang terpisah, masing-masing perusahaan itu mempunyai stasiun yang terpisah pula. Keadaan ini cukup merepotkan, tidak hanya bagi penumpang tapi (terutama) untuk angkutan barang. Baru ketika awal pemerintah Jepang masuk ke Indonesia sekitar tahun 1942/1943, kedua stasiun itu dapat dihubungkan dengan jalur kereta api karena kedua perusahaan kereta api itu digabungkan oleh pemerintahan Jepang di Indonesia.
Bangunan membentuk siluet simetris dengan bangunan utama di tengah yang beratap kubah tinggi sebagai vocal point serta sayap-sayap bangunan di kanan kirinya yang didominasi oleh atap pelana dari genteng merah dengan bukaan-bukaan atap sebagai variasi. Bentuk bangunan yang simetris itu merupakan salah satu ciri arsitektur kolonial yang merupakan perpaduan antara langgam desain yang populer di Eropa dengan penyesuaian terhadap iklim lokal tropis melalui penggunaan atap pelana serta banyak bukaan untuk penghawaan.
Tidak banyak ornamen yang dijumpai, karena gaya arsitektur Romaticism yang populer di Eropa pada awal abad ke 20 lebih menekankan pada komposisi dan proporsi elemen-elemen garis dan bidang-bidang bukaan sebagai ornamen bangunan. Komposisi bidang-bidang bukaan pada tembok yang kokoh serta atap kubah membentuk kemegahan bangunan ini.
Ruang-ruang pada bangunan Stasiun Tawang disusun secara linier dengan pintu masuk utama yang berada di tengah sebagai orientasi. Ruang di bawah kubah merupakan vestibule atau hall dengan langit-langit yang tinggi. Atap kubah membentuk langit-langit persegi memberikan pencahayaan atas yang memperkuat kesan megah ruangan ini. Empat kolom utama yang menyangga atap kubah sepintas mirip dengan bagian tengah sebuah pendapa joglo. Bagian ini diperindah dengan empat lampu hias serta jendela kaca memanjang di sekeliling bangunan bagian atas.
Ornamen paling menonjol pada bangunan Stasiun Tawang adalah pintu-pintu utama serta jendela ventilasi atas yang berbentuk lengkung yang dipertegas dengan bingkai konstruksi Arch pasangan batu bata di tepi atasnya. Pada ujung lengkungan bata tersebut diakhiri dengan moulding dari semen dan keramik warna dan material yang berbeda dari elemen - elemen bukaan (pintu, jendela, dan ventilasi) tersebut menjadi ornamen yang mempercantik arsitektur Stasiun Tawang. Cornice berupa ballustrade/pagar pembatas atap datar di atas pintu-pintu tersebut memperkuat akhiran atas dari komposisi itu.
Sayap bagian kanan merupakan ruang tunggu kelas satu, ruang kepala stasiun, ruang sinyal serta ruang-ruang operasional. Sayap kiri merupakan ruang tunggu kelas dua dan kelas tiga yang pada masa kolonial diperuntukkan bagi pribumi. Ruang-ruang tersebut berderet di sepanjang concourse (peron) membentuk model stasiun satu sisi dengan peron dan sepur yang terletak sejajar dengan bangunan stasiun. Peron dan sepur dinaungi atap pelana yang memanjang sejajar dengan struktur rangka baja dan penutup seng gelombang.
Dalam finishing ruang, dominasi warna putih menutup hampir semua tembok bagian dalam serta cokelat tembaga sebagai penghiasnya. Dari penelitian para arsitek pencinta bangunan bersejarah, material dasar bangunan stasiun ini pada waktu didirikan berasal dari batu yang dilapisi semen tumbukan bata merah dan kapur. Cat yang dipergunakan juga masih sederhana, hanya kapur.
Namun sungguh sayang akibat perkembangan kota Semarang yang semakin pesat serta sistem tata kotayang belum pas dengan kondisi kota pinggir pantai maka stasiun Semarang Tawang sering digenangi banjir akibat hujan atau rob (rembesan air laut jika permukaan laut pasang). Penyebab banjir, selain curah hujan yang tinggi tiga hari berturut-turut dan air pasang laut Jawa, juga hilangnya area resapan di sebelah utara stasiun. Rawa yang dahulu melingkupi bagian utara stasiun sejak 1985 berubah menjadi pemukiman. Banjir merupakan hantu yang harus dihadapi bangunan Stasiun Tawang. Namun, gunungan sampah di tambak sebelah timur stasiun juga musuh utama yang harus dihadapi. Dampaknya, perjalanan kereta api melalui jalur utara di Jawa menjadi terganggu. Untuk mengatasi masalah itu telah tiga kali dilakukan pengurukan lantai bangunan. Ketinggian bangunan telah berkurang 1.5 meter akibat peninggian itu. Tak hanya bangunan yang ditinggikan, jalan rel pun ikut ditinggikan.http://indonesianheritagerailway.com/index.php?option=com_content&view=article&id=62&Itemid=172&lang=id

Stasiun Ambarawa (Daerah Operasi 4 Semarang)


st_ambarawa_abr
Stasiun Kereta Api Ambarawa pada awalnya adalah sebuah stasiun yang bernama Stasiun Willem I, dibangun oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada tanggal 21 Mei 1873- Stasiun ini diberi nama menurut nama raja Belanda yang berkuasa pada saat itu, karena pembangunannya dilatarbelakangi pertimbangan politis.
Pada masa pengoperasiannya di masa kolonialisme Belanda, Stasiun Willem I digunakan sebagai sarana transportasi militer di sekitar Jawa Tengah. Keistimewaan jalur kereta api di sini adalah terdapatnya rel khusus untuk kereta dengan roda bergerigi yang digunakan untuk melintasi jalur perbukitan yang menanjak. Namun pada tahun 1976, Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) terpaksa menghentikan pengoperasian stasiun ini dan jalur di sekitarnya. Sejak saat itu Stasiun Ambarawa digunakan sebagai Museum Kereta Api, dan pada tahun 2002 Pemerintah Propinsi Jawa Tengah merevitalisasi bangunan stasiun tua tersebut.
Sebagai museum, Stasiun Ambarawa menyimpan sedikitnya 21 buah lokomotif kuno buatan tahun 1891 - 1928. Salah satunya adalah lokomotif CC50 buatan Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik Winterthur, Swiss dan Werkspoor, Belanda yang pada masa jayanya diberi julukan Berkoningin atau Ratu Pegunungan karena lokomotif yang diproduksi tahun 1927 ini merupakan loko yang paling gesit menempuh jalur pegunungan yang menanjak dan berliku. Diantara koleksi lokomotof tua tersebut, dua di antaranya masih bisa beroperasi sebagai kereta wisata, yakni kereta uap bergerigi B25 02 dan B25 03 buatan Jerman.
Mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa ini kita akan disuguhi kemegahan arsitektur bangunan peninggalan Belanda. Bangunan utama stasiun berupa struktur baja bentang lebar dengan atap tinggi seperti hanggar yang menaungi peron serta sebuah bangunan berdinding bata yang dahulu merupakan ruang kepala stasiun dan ruang tunggu.
Di bagian luar, terdapat peron yang luas dan terbuka memberi kesan lapang dan menunjukkan adanya pertimbangan matang dalam perancangannya sebagai fasilitas publik pada iklim tropis.
Keindahan bangunan ditampilkan melalui ornamentasi geometris berupa list dan moulding dari susunan bata yang ditempelkan pada dinding serta membingkai setiap pintu dan jendela. Suatu gaya ornamentasi yang diilhami oleh arsitektur Eropa yang populer pada pertengahan abad 19. Di kanan-kiri peron yang luas dan terbuka dengan lantai ubin yang masih asli dan terawat memberi kesan lapang sebagai fasilitas publik pada iklim tropis.
Komposisi pintu dan jendela-jendela yang geometris menimbulkan irama yang teratur dan indah dengan adanya unsur garis berupa list dan moulding dari susunan bata yang sekaligus memberikan kesan kesatuan.
Susunan kolom-kolom baja yang mendukung konstruksi atap pelana berbentuk hanggar dengan kanopi yang dahulu menaungi emplasemen. Di atas kanopi terdapat bidang - bidang kaca yang berfungsi sebagai pencahayaan.
Ruangan yang dahulunya merupakan ruang tunggu VIP sekarang difungsikan sebagai ruang penyimpanan dan display alat-alat perkeretaapian seperti alat pengatur sinyal, alat telekomunikasi kuno, dan sebagainya.http://indonesianheritagerailway.com/index.php?option=com_content&view=article&id=362%3Astasiun-ambarawa&catid=57&lang=id

Stasiun Pekalongan (Daerah Operasi 4 Semarang)


Pekalongan merupakan kota perdagangan yang memiliki peran cukup besar dalam perekonomian Jawa Tengah. Selain batik, perikanan juga menjadi andalan sebagai komoditas utama wilayah ini dan transportasi menjadi faktor penting untuk mendukung kegiatan tersebut. Hal itu didukung oleh adanya pelabuhan yang dalam babasa Belanda disebut Boom yang merupakan pelabuhan perikanan terbesar di Jawa Tengah. Selain itu, batik merupakan komoditas perdagangan kota Pekalongan yang perikanan terutama hasil tangkapan terlihat adanya Tempat Pelelangan Ikan (TPI) terbesar sehingga diperlukan moda transportasi lainnya untuk pendistribusian ke daerah lainnya seperti mobil dan kereta api.
Stasiun Pekalongan pada awalnya dimiliki oleh Semarang - Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) pada tahun 1919. Tampak depan Stasiun Pekalongan didominasi atap pelana, dimana celah antar atap dimaksudkan sebagai lubang aliran udara agar ruang dibawahnya terasa sejuk. Penambahan kanopi sebagai penanda pintu masuk utama, yang membedakan sirkulasi penumpang antara penumpang yang masuk dan pintu penumpang keluar.
Stasiun Pekalongan yang berlokasi di Jalan Gajah Mada, Pekalongan Barat ini merupakan stasiun satu sisi dimana posisi emplasemen berada sejajar dengan bangunan stasiun. Bangunan stasiun ini sendiri dalam perjalanan waktu telah mengalami beberapa kali restorasi dan perubahan, termasuk penambahan bangunan penunjang disebelah barat stasiun yang diperuntukan bagi ruang usaha , toilet dan biro perjalanan serta peninggian lantai pada ruang — ruang tertentu untuk menghindari genangan air akibat laut pasang. Pemugaran dan perbaikan tersebut menunjukkan upaya pelestarian bangunan stasiun sebagai aset dan bagian dari sejarah perkeretaapian di Indonesia.
Bangunan Stasiun Pekalongan memiliki bentuk dan arsitektur yang sederhana, terdiri dari bangunan utama, bangunan emplasemen dan bangunan penunjang. Bangunan utama berbentuk memanjang dengan struktur rangka kayu membentuk atap pelana bersusun tiga yang menaungi ruang hall, ruang kepala stasiun, tempat penjualan karcis dan ruang tunggu yang semuanya diletakkan secara linier sejajar dengan emplasemen. Bangunan emplasemen berupa kayu dengan konstruksi kuda-kuda yang unik membentuk rangka atap bentang lebar menaungi emplasemen yang terdiri dari peron dan dua jalur sepur. Sedangkan bangunan penunjang berupa rumah kecil beratap pelana yang dulunya gudang penyimpanan hasil bumi sekarang digunakan sebagai ruang pengatur jalur.
Bangunan emplasemen berupa struktur atap bentang lebar yang menaungi peron dan dua jalur sepur. Di depannya adalah bangunan penunjang yang sekarang berfungsi sebagai ruang pengatur jalur. Lantai peron telah mengalami peninggian 60 cm untuk menghindari air pasang yang beberapa tahun terakhir telah mencapai area stasiun.
Bagian dalam emplasemen terasa luas dalam naungan atap lebar baja gelombang dengan konstruksi kuda-kuda kayu yang berbentuk unik sekaligus menjadi elemen estetika pemberi suasana ruangan ini. Peninggian lantai peron sekaligus memberi kemudahan bagi penumpang untuk naik ke dalam kereta api.
Deretan kolom kayu penyangga struktur bangunan utama dengan pondasi umpak batu tinggi yang berfungsi menghindarkan kayu dari kelembaban tanah dan genangan air pasang. Demikian juga fungsi lapisan semen dan kerikil kasar pada dinding bagian bawah. Lubang seperti jendela kecil dahulunya adalah loket, dan jendela - jendela berjalusi saat ini tidak pernah dibuka lagi karena penggunaan pendingin udara pada ruang di dalamnya.
Konstruksi kolom terbuat dari tiga batang kayu yang disatukan dengan baut dan plat baja. Penggunaan tiga batang kayu dimaksudkan untuk memaksimalkan daya tahan kolom terhadap beban atap bentang lebar.
Detail konstruksi kuda-kuda kayu berupa perpaduan teknis batang-batang kayu yang saling bersilangan sekaligus menjadi elemen estetika.
http://indonesianheritagerailway.com/index.php?option=com_content&view=article&id=209%3Astasiun-pekalongan&catid=57&lang=id

Stasiun Tanggung (Daerah Operasi 4 Semarang)


st_tanggung_tg
Stasiun Tanggung terletak di Kabupaten Grobogan Jawa Tengah yang merupakan bagian dari Daerah Operasi (DAOP) 4 Semarang. Meskipun hanya merupakan stasiun kecil namun memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi karena merupakan salah satu stasiun tertua di Indonesia yang mulai digunakan pada tanggal 10 Agustus 1867 ketika jalur kereta api pertama dari Samarang - Stasiun pertama di kota Semarang yang kini sudah terpendam menuju Tanggung sejauh kurang lebih 25 Km dibangun oleh perusahaan NIS (Nederland Indische Spoorweg Maatschappij) dan dibuka oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Ludolph A J W Baronsloet van de Beele. Kini Stasiun Tanggung tidak lagi melayani penumpang naik atau turun, tetapi hanya difungsikan sebagai stasiun pengawas keamanan perjalanan kereta api di lintasan Brumbung - Gundih.
Tampak bangunan Stasiun Tanggung dengan peron berupa teras yang pada bagian samping digunakan sebagai tempat parkir. Pada sudut bangunan yang lain dibangun ruang kantor pengelola yang berbentuk modern.
Bangunan Stasiun Tanggung yang pertama yang dibangun tahun 1867 telah dibongkar dan pada tahun 1910 dan dibangun kembali bangunan yang hingga kini masih berdiri dan telah ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya berdasarkan UU Cagar Budaya no.5 tahun 1992. Dalam renovasi tersebut terjadi perubahan bentuk atap dari yang semula berupa kombinasi dari bentuk atap pelana pada bagian atas dan atap jurai dibagian bawahnya menjadi bentuk atap pelana dengan teras berkanopi dibagian depan dan overstek di bagian belakang.
Stasiun ini kecil hanya berupa bangunan tunggal berukuran luas 8 x 20 meter2 dengan material kayu digunakan pada semua bagian, mulai dari sebagai struktur utama, kolom, dinding, maupun ornamennya. Ekspos struktur kayu sebagai menjadi elemen estetika yang mirip dengan model rumah Eropa berlanggam Tudor. Penonjolan struktur kayu terlihat pada tampak depan bangunan yang divariasi dengan list kayu bersilang diagonal pada dindingnya. Pada bagian samping bangunan terlihat adanya variasi gable (sofi-sofi bangunan) yang berupa susunan papan dengan ujung berbiku-biku yang dihias dengan balok pengikat. Elemen estetika lainnya adalah pagar teras atau tempat penitipan motor yang berupa balok kayu berbentuk silang-silang.
Detail dinding gable atau sofi-sofi di sisi samping bangunan dari papan kayu berderet dengan pinggiran berbiku-biku. Bagian atas dibentuk bersusun dengan balok pengikat berprofil mempertegas bentuk atap pelana. Emplasemen Stasiun Tanggung hanya terdiri dari dua jalur rel (rel ganda) untuk lintasan kereta Brumbing - Gundih. Struktur dinding kayu dengan balok silang sebagai penguat dinding. Penonjolan struktur tersebut sebagai ornamen mengingatkan pada karakter rumah pedesaan di Eropa bergaya Tudor.
Peron Stasiun berupa teras selebar kurang lebih 2,5 meter dengan sederet bangku besi. Penonjolan balok kayu penguat dinding dan jendela berjalusi menjadi pemberi karakter utama stasiun kecil yang terpelihara dengan baik ini.
Di stasiun dengan dinding dari kayu jati bercat putih itu, bisa dijumpai lemari kayu penyimpanan karcis era Hindia Belanda, lengkap dengan informasi rute perjalanan kereta api. Di belakang stasiun ini juga masih bisa dijumpai bekas rumah dinas kepala stasiun era Hindia Belanda.
Sementara pada home page dari website indonesianheritagerailway.com, gambar tampak depan dari lokomotif DD52 dan stasiun Tanggung dimaknai sebagai komitmen perusahaan terhadap pelestarian aset non-bangunan dan bangunan yang bernilai sejarah. Gambar stasiun Tanggung dipilih sebagai penanda salah satu stasiun yang menjadi saksi dibukanya jalur kereta api pertama di Indonesia. Meski stasiun kecil, stasiun Tanggung bermakna besar dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia. Gambar lokomotif uap DD52 sebagai penanda agar jangan sampai terulang kembali punahnya salah satu aset heritage perkeretaapian Indonesia.
http://indonesianheritagerailway.com/index.php?option=com_content&view=article&id=107%3Astasiun-tanggung&catid=57&lang=id